Pemeriksaan cestoda,nematoda,trematoda protozoa,antropoda

emasuki bulan Ramadhan tahun ini, sedikit memprihatinkan. Betapa tidak, di awal Ramadhan, serentetan bencana alam menimpa saudara kita yang hidup di sepanjang wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bencana alam dimaksud seperti gempa bumi yang kembali melanda Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat dengan kekuatan 7,9 SR, 7,7 SR dan 7,8 SR. Kita pantas berduka, sebab semestinya saudara kita dapat melakukan ritual ibadah puasanya dengan aman, kehadiran gempa bumi sedikit membuncah ketenangan saudara kita dalam kekhusukannya menjalankan ibadah puasa dimaksud. Senada dengan itu, dunia peternakan dan kesehatan hewan Indonesia juga belum sepenuhnya bisa bernafas legah. Di sana sini masih saja terdengar pembantaian unggas secara besar-besaran terkait ketakutan masyarakat terhadap bahaya penularan Avian Influenza dari unggas ke manusia. Hal ini memang tak dapat dipungkiri. Setelah empat tahun Indonesia bersama AI, kondisi AI sendiri di Indonesia belumlah pulih. Hal ini masih saja terlihat manakala adanya laporan-laporan suspect Flu Burung yang menimpa manusia dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, penyakit ternak dari jenis parasit juga perlu diperhatikan. Hal ini terkait dengan kondisi iklim dipenghujung tahun 2007 ini yang cenderung basah, sehingga kekuatiran terhadap serangan parasit perlu ditingkatkan. Menurut Technical Service narasumber Infovet di berbagai tempat di Indonesia, iklim basah merupakan faktor awal yang memicu munculnya serangan berbagai parasit pada ternak. Ditegaskan, dari sejumlah parasit dimaksud yang perlu mendapat perhatian lebih adalah cacing, lalat dan kutu. Tiga Parasit Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya mendeskripsikan mata kuliah Parasitologi Veteriner memberikan ilmu-ilmu protozoologi (tentang protozoa), helmintologi (tentang cacing) dan entomologi (tentang serangga). Menurut Laboratorium Parasitologi FKH UNair itu, diagnosis protozoa meliputi protozoa saluran cerna dengan pemeriksaan feses, bedah saluran pencernaan, usapan kerongkongan dan kerokan usus. Khusus koksidiosis pada ayam dilakukan bedah bangkai dan uji biologis. Protozoa darah meliputi pemeriksaan ulas darah dan khusus leucocytozoonosis dlakukan bedah bangkai dan gerusan organ dalam. Toxoplasmosis meliputi pemeriksaan feses, uji tekan dan uji biologis. Adapun diagnosis penyakit helminth, meliputi bedah saluran pencernaan untuk identifikasi cacing, pemeriksaan feses secara natif, metode konsentrasi sedimentasi dan pengapungan. Identifikasi cacing secara natif dan pewarnaan Carmin. Koleksi cacing dengan media basah dan preparat permanen. Pemeriksaan larva dan telur cacing dari padang rumput. Penghitungan telur cacing per gram tinja untuk mengetahui derajat infeksi. Sedangkan diagnosis penyakit arthropoda, yang disebabkan karena tungau dilakukan cara pengerokan kulit pada kelinci dan ayam kampung, identifikasi secara makroskopis. Identifikasi arthropoda penyebab penyakit pada ternak yaitu pinjal, caplak dan kutu dilakukan dengan cara pembuatan sediaan permanen dengan dan atau tanpa pewarnaan, dilanjutkan pemeriksaan secara mikroskopis. Sedangkan arthropoda yang bertindak sebagai vektor penyakit yaitu lalat dan nyamuk, identifikasi dilakukan secara makroskopis dan koleksi cara basah dan kering/pinning. Analisa Parasitologi Untuk analisa parasitologi, peternak dapat menggunakan lembaga negara yang diakui internasional untuk melakukan pemeriksaan penyakit ini, yaitu Balai Besar Penelitian Veteriner yang menyediakan berbagai jenis layanan guna pemeriksaan penyakit cacing. Layanan tersebut meliputi: Pemeriksaan sampel feses, darah/serum, ektoparasit, dan lain-lain asal hewan ternak/hewan kesayangan. Lalu pemeriksaan feses dengan uji apung untuk menentukan EPG (eggs per gram feses) terhadap cacing nematoda dan cestoda, OPG (ookista per gram feses) terhadap Cocidia spp dan Toxoplasma. Kemudian pemeriksaan feses dengan uji endap untuk menentukan EPG terhadap cacing trematoda. Pemupukan feses dan pemeriksaan larva cacing nematoda untuk menentukan jenis-jenis cacing nematoda. Juga, pemeriksaan preparat ulas darah terhadap adanya Babesia bovis, B. bigemia, B. canis, Anaplasma marginale dan A. centrale, Theileria spp, Trypanosoma evansi dan T. theileri, Plasmodium spp., Leucocytozoon caulleryi dan L. sabrazesi, dll. Pun, pemeriksaan sampel darah segar terhadap adanya Trypanosoma spp. dan Microfilaria sp. Pemeriksaan serum dengan uji Elisa deteksi antibody terhadap penyakit surra. Selanjutnya, pemeriksaan kerokan kulit terhadap adanya scabies dan parasit. Serta, pemeriksaan ektoparasit dan cacing dewasa untuk tujuan identifikasi. Untuk pemeriksaan-pemeriksaan itu, BBalitvet mempunyai alat-alat: Autoclave, centrifuge, microhaematocrit centrifuge, millipore deionized water, elisa reader, ELISA washer, freezer, incubator, magnetic stirer, stereo dan compound microscope, oven, pH meter, refrigerator incubator, timbangan, UV-Vis spectrophotometer. Penelitian dan Penyuluhan oleh Peneliti Para peneliti pun melakukan upaya penelitian tentang Parasit. Parasit-parasit yang umum dikenal antara lain: Protozoa (Eimeria tenella, Toxoplasma gondii, Leucocytozoon, Trypanosoma, Babesia), Penyakit Cacing Nematoda (Ascardia galli, Haemonchus contortus, Strongyl dan Strongyloides), Penyakit Cacing Trematoda (Fasciola gigantica), Penyakit Cacing Cestoda (Diphylobothrium latum, Railietina sp, Oxyspirura mansoni), Ektoparasit, Parasit Ikan. Misalnya FKH UGM, melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, di mana kegiatan-kegiatan ini dalam pelaksanaannya melibatkan Dosen bagian Parasitologi, Mahasiswa, Kelompok Masyarakat dan Pemerintah Daerah di antaranya adalah sebagai berikut: Pemberdayaan masyarakat kelompok ternak Sapi Potong Pandan Mulyo, Srandakan, Bantul dalam mencegah dan memberantas penyakit parasit secara terpadu melalui kegiatan belajar mengajar dan praktikum lapangan. Lalu, pendampingan kelompok ternak sapi Bina Gama Desa Banaran dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati Hutan Wanagama, Gunung Kidul. Lantas, pengembangan Stasiun Flora Fauna Bunder, Gunung Kidul sebagai Taman Wisata Alam sebagai upaya dalam pelestarian satwaliar Rusa Jawa (Cervus timorensis). Kemudian, pemeriksaan parasit pada ternak di sekitar kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Juga, penyuluhan penyakit parasit pada kambing di kelompok ternak desa Nglipar, Gunung Kidul. Selanjutnya, penyuluhan penyakit parasit pada kambing di kelompok ternak desa Nganggring, Turi, Sleman. Berikutnya, penyuluhan penyakit parasit pada hewan dan ternak di Dinas Peternakan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berlanjut, penyuluhan penyakit pada satwaliar di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta. Juga, penyuluhan Penyakit Parasit zoonosis pada pertemuan Dharma Wanita Persatuan Fakultas teknik UGM. Kondisi pada Peternakan Adapun, ini kondisi pada peternakan. Apabila anak ayam dibiarkan berkeliaran, mereka harus dilindungi dari pemakan mangsa dan ayam yang buas terutama pada malam hari. Tikus dan kutu ayam kalau dibiarkan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan ayam yang ahirnya dapat menimbulkan penyakit. Pisahkan ayam betina muda dari yang lebih tua. Hal Ini akan menolong mengurangi kemungkinan menyebarnya penyakit dari induk ayam yang lebih tua ke yang lebih muda. Ayam betina dapat terkena penyakit cacing. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdapat sejumlah obat yang dapat dipergunakan untuk mencegah parasit pada ayam yang datangnya dari dalam. Dengan pengelolaan dan sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi terjangkitnya parasit. Periksalah beberapa ayam betina dari waktu ke waktu untuk parasit yang datangnya dari luar seperti kutu ayam. Parasit memang bukan sembarang penyebab penyakit, serta mampu melipatkan kerugian, dan kita perlu cermat mengamatinya. Dan itu: pasti bisa! (Infovet/ Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar